New Idiot? Yes Iam!

Saya kira, saya hampir gila!

Sudah hampir dua bulan ini, saya kuliah di program pasca sarjana ilmu komunikasi. Sebut saja kampus itu UI. Kampus kuning yang biayanya super-duper mahal buat saya. Tapi bukan itu yang bikin saya nyaris kehilangan akal.

Begini, jadwal kuliah yang empat kali sepekan, plus tugas kuliah yang menumpuk itulah yang membuat saya harus pintar membagi waktu dengan tugas kantor. Sampai tulisan ini saya ketik, saya masih menjabat sebagai redaktur di sebuah media cetak di Jakarta. Sorry, saya tak mau menyebut nama media itu. Bukan apa-apa, kantor saya tak berkontribusi finansial, jadi saya enggan menyebut kantor tempat saya berkarya.

Anda bisa bayangkan kesibukan saya yang berlipat banyak? Bukan berlipat ganda (baca; dua), tapi banyak. Saya terengah-engah mengikuti jalannya perkuliahan. Dan saya, depresi. Saya menjadi merasa sangat bodoh dan sulit menerima pelajara. Ya, itu benar!

Dampaknya, saya ingin tidur lebih lama, sering melamun dan, lebih asyik memikirkan hal lain selain tugas-tugas itu. ya, saya jadi semakin tidak fokus.

Padahal, background pendidikan S1 dulu masih linear dan masih serumpun dengan ilmu komunikasi; ilmu jurnalistik. Banyak mata kuliah yang sama; ada metode penelitian komunikasi, filsafat komunikasi, teori komunikasi. Tapi entah kenapa, saya merasa berjarak dengan semua tokoh yang ada di dalamnya, merasa asing dengan model komunikasi. Saya jadi tak kenal Shannon-Weaver,Sschramm, Weber. Ahh siapa mereka? Tapi, sering kali dosen saya yang bergelar profesor itu menyebut nama mereka?

Ahh gila!

Saya mulai tahu diri, bahwa lulus kuliah lima tahun lalu, telah membuat banyak perubahan dalam diri saya. Terutama cara saya menjalani dan menyikapi hidup. Saya lebih suka hal-hal praktis. Itu kenapa, saya lebih tertarik mengembangkan keterampilan saya menulis dan pemahaman saya soal praktik jurnalisme di Yayasan Pantau sejak 2010.

Frustasi ini juga yang membuat arah kompas target saya bergeser. Pada awalnya, saya menargetkan IPK saat kelulusan nanti; 3.6. Tapi, setelah dua bulan saya bolak-balik Salemba, khususnya ke Gedung IASTH lantai enam yang pengap dan dingin itu, membuat saya jadi tahu diri. Ya, 3.16, seperti IPK sarjana saya dulu, sudah cukuplah membuat saya jadi seorang idiot baru bergelar M.Si yang TIDAK bakal saya letakkan di belakang nama saya.

Now, absolutely I know, iam a new idiot, not a master!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s