Apa Kabar Menulis?

Empat November dua ribu sebelas.

Ini bukan kelahiran saya, orangtua, istri, anak, atau orang yang berarti buat saya. Bukan pula hari kelulusan sarjana yang pantas saya ingat. Bahkan tanggal kelulusan itu, saya lupa. Empat November tahun lalu, bukan pula hari besar nasional. Tapi hari ini penting buat saya, dan seharusnya saya ingat.

Empat November, setahun lalu, adalah momen pencanangan gerakan “One Day One Article”. Gerakan ini adalah gerakan menulis satu artikel setiap hari. Artikel apa pun, yang penting setiap hari menulis. Mengapa menulis?

Menurut artikel tentang sebuah penelitian mengungkapkan, bahwa orang-orang yang terbiasa menulis memiliki kejiwaan yang lebih stabil dan kualitas hidupnya lebih bahagia. Benarkah begitu? Saya tak tahu pasti penelitian itu dilakukan dengan cara seperti apa. Tapi, dari logika saya memahami bahwa menulis merupakan salah satu kegiatan yang bisa ‘melancarkan’ perasaan yang tersumbat.

Banyak orang yang memiliki ide, tapi tak bisa dituangkan menjadi tulisan. Semuanya mengendap di kepala atau di hati, tapi sulit sekali keluar menjadi kalimat dan paragraf. Mungkin seperti ada sebuah bendungan besar di kepala, sehingga ide itu tak bisa mengalir.

Nah, untuk orang yang terbiasa menulis atau menuangkan perasaan ke dalam tulisan, tentu saja memiliki kapasitas yang berbeda dari mereka yang sulit menulis. Dari sini bisa dipahami, bagi mereka yang rajin menulis, tentu akan lebih mudah menuangkan ekspresi, perasaan atau ide.

Lalu, bagaimana nasib gerakan yang saya gulirkan?

Nah, ini dia persoalannya. Atas nama kesibukan, gerakan ini mandeg. Dalam blog saya, tercatat bahwa saya hanya mampu menulis sampai 14 November di tahun itu. Sama artinya bahwa saya hanya mampu menulis selama 10 hari saja!  Sebuah ‘rekor’ yang sangat remeh bagi orang yang memiliki latar belakang kepenulisan seperti saya.

Dalam praktiknya, saya  kesulitan mengatur waktu dan tak berdisiplin dalam menyediakan waktu khusus buat menulis. Saya lebih sering mengandalkan mood, bahkan mendewakannya. Bisa menulis dalam waktu panjang, kalau stamina si mood ini sedang terjaga. Tapi, saya juga bisa tidak menulis dalam beberapa pekan kalau si mood tidak datang.

Padahal, penulis besar nan hebat, selalu serius mempersiapkan diri soal ini. Mereka bahkan punya waktu khusus setiap hari untuk menulis. Mereka membiasakan dan disiplin dengan kegiatan ini. Ada yang punya waktu khusus pagi hari, ada pula yang malam, tergantung kondisi biologis si penulis.

So, pada akhirnya saya berharap, bahwa kegiatan ini bisa saya tekuni sepanjang hayat. Tidak hanya menulis asal target waktu, tetapi lebih dari itu, target manfaat harus dicapai. Bukankah kita bisa bahagia, kalau kita lancar menuangkan perasaan kita melalui tulisan? Apalagi, tulisan itu lantas bisa bermanfaat bagi banyak orang yang membacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s